PANTANG MENYERAH

Sabtu, 29 Maret 2014

MEMILIH PEMIMPIN MASA DEPAN YANG BERIMAN


TIPS MEMILIH PEMIMPIN CERDAS......

Berbicara masalah pemimpin tentu dalam benak kita timbul sebuah pertanyaan mengenai sosok pemimpin yang ideal untuk memimpin suatu daerah atau negara. Hal ini tentu sangat penting untuk kita ketahui agar kedepannya kita tidak melakukan kesalahan dalam memilih figur pemimpin di masa yang akan datang. Apalagi menjelang pemilihan kepala daerah, maka pengetahuan mengenai sosok yang layak memimpin umat harus dimiliki oleh masyarakat yang akan dipimpin. Lalu bagaimanakah sosok pemimpin yang menjadi dambaan ummat tersebut ? Penulis akan mengulas hal tersebut secara garis besar agar dapat menjadi pedoman bagi kita dalam memilih pemimpin suatu daerah atau negara.
Sosok pemimpin yang ideal tentunya sangat erat kaitannya dengan figur Rasulullah SAW. Beliau merupakan pemimpin agama dan juga pemimpin negara. Rasulullah merupakan suri tauladan bagi semua orang, tidak hanya umat Islam saja tetapi juga seluruh manusia di bumi ini karena dalam diri beliau tersimpan kebaikan, kebaikan, dan kebaikan. Hal tersebut juga telah dijelaskan Allah dalam al-Quran surah Al-Ahzab : 21. Rasulullah SAW sebagai pemimpin umat telah memberikan contoh keteladanan dalam membimbing umat ke jalan yang mensejahterakan umat secara lahir dan bathin. Beliau tidak hanya memimpin agama saja, tetapi beliau adalah sosok yang patut diteladani dalam memimpin sebuah negara.

Oleh karena itu dalam memilih sosok pemimpin yang ideal harus berkaca pada model kepemimpinan Rasulullah. Sebagai pemimpin yang ideal dan penuh dengan keteladanan, Rasulullah telah dikaruniai 4 (empat) sifat utama yaitu : Shiddiq, Tabligh, Amanah, dan Fathonah. Keempat sifat tersebut tentu menjadi dasar atau kriteria seorang pemimpin yang ideal sesuai dengan sifat Rasulullah SAW.
Pertama, Shiddiq artinya jujur. Kejujuran adalah syarat mutlak untuk menjadi seorang pemimpin. Pemimpin yang jujur maka akan jauh dari sifat dusta dalam kepemimpinannya. Masyarakat akan selalu mempercayai setiap apa yang menjadi kebijakan untuk mensejahterakan rakyatnya. Pemimpin yang memiliki sifat jujur juga akan lebih dicintai oleh rakyatnya karena janji-janji yang diucapkannya pada saat kampaye tidak sekedar “silat lidah” semata. Sebaliknya seorang pemimpin yang dusta dan hanya mengumbar janji demi kekuasaan pasti akan dibenci oleh rakyatnya. Kejujuran seorang pemimpin dapat kita nilai dari perkataan dan sikapnya.karena perkataan seorang pemimpin merupakan cerminan dari hatinya.
Kedua, Tabligh artinya menyampaikan atau komunikatif. Seorang pemimpin harus mempunyai sifat terbuka kepada seluruh masyarakatnya. Apa yang telah menjadi kebijakannya harus disampaikan kepada rakyatnya. Selain itu, seorang pemimpin juga mempunyai kewajiban untuk menyampaikan yang benar dan yang salah agar masyarakatnya tidak terjerumus kedalam jurang kenistaan. Sosok pemimpin yang mempunyai sifat tabligh adalah mereka berani menyatakan kebenaran meskipun mempunyai resiko atau konsekuensi yang berat. Seorang pemimpin juga harus selalu menjalin komunikasi yang harmonis dengan rakyatnya agar tidak terjadi kesalahfahaman terhadap apa yang telah menjadi kebijakan seorang pemimpin.
Ketiga, Amanah artinya terpercaya. Amanah juga merupakan sifat wajib yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Dengan memiliki sifat amanah, maka pemimpin akan senantiasa menjaga kepercayaan masyarakat yang telah diserahkan diatas pundaknya. Bangsa kita kini mengalami krisis pemimpin yang amanah. Hal itu terbukti dengan banyaknya pemimpin kita yang berbondong-bondong masuk penjara karena terjerat kasus korupsi. Jabatan yang disandangnya telah disalahgunakan yaitu dengan memanfaatkan jabatan mereka sebagai alat untuk menumpuk kekayaan. Mereka tidak lain adalah seorang perampok yang berdasi dengan cara menghianati kepercayaan rakyatnya. Oleh karena itu pemimpin yang amanah adalah pemimpin yang bertanggung jawab yaitu melaksanakan tugas dengan lebih berorientasi kepada ketuntasan dan kesempurnaan.
Keempat, Fathonah artinya cerdas. Seorang pemimpin seyogyanya harus memiliki kecerdasaran di atas rata-rata masyarakatnya. Hal ini dimaksudkan agar pemimpin tersebut memiliki rasa percaya diri untuk memimpin rakyatnya. Kecerdasan merupakan modal utama untuk menjadi seorang pemimpin. Karena hal itu akan membantunya dalam memecahkan persoalan yang dihadapi oleh masyarakatnya. Kecerdasan atau ilmu yang dimiliki oleh seorang pemimpin itu ibarat bahan bakar yang digunakan untuk menjalankan roda kepemimpinannya.

Oleh karena itu, mencari sosok pemimpin yang ideal memang bukan pekerjaan yang mudah atau instan, tetapi kita harus bekerja keras untuk selalu melahirkan sosok pemimpin yang ideal tersebut agar negara kita tidak kekurangan stok pemimpin yang sesuai dengan karateristik kepemimpinan Rasulullah SAW. Maka harus dilakukan pembinaan sejak dini tentu dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Semoga kita mendapatkan sosok pemimpin yang agamawan sekaligus negarawan menuju kehidupan masyarakat yang madani. INGAT TANGGAL 9 APRIL JANGAN SAMPAI SALAH PILIH, 5 MENIT MENCBLOS MENENTUKAN MASA DEPAN INDONESIA 5 TAHUN KEDEPAN...

Jumat, 23 Agustus 2013

KEGIATAN MOP SMP PUI MUKTISARI TAHUN 2013


Salam Pramuka.....?
Apa kabar semuanya? Mudah-mudahan semuanya dalam keadaan baik-baik saja.
Hari ini tepatnya tanggal 23 agustus 2013 SMP PUI Muktisari tengah melaksanakan kegiatan MOP, dimana pada awalnya kegiatan ini sempat tertunda karena waktunya bertepatan dengan Bulan Suci Ramadhan, jadinya dilaksanakan sekarang deh...tapi ga apalah yang penting tidak mengurangi makna dan tujuannya.
Kegiatan MOP ini dimaksudkan untuk melatih pengetahuan anak tentang kepramukaan, baik melatih mental, fisik serta materi yang berhubungan dengan kepramukaan.
Kegiatan MOP ini diikuti oleh kurang lebih 150 orang siswa yang terdiri dari siswa kelas VII, Kelas VIII sebagai peserta dan Kelas IX sebagai panitia yang juga di bantu oleh para Pembina yang senantiasa mendampingi kegiatan tersebut dari awal.
Mudah-mudahan kegiatan ini berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan dari awal sampai akhir dan tentunya harus seru dan berkesan dong....Ok!!!

Minggu, 21 Juli 2013

RENUNGAN RAMADHAN (by Iman Nurzaman, S.Pd.


BAHAYA MEREMEHKAN DOSA

Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan tiga kesempatan kepada kita untuk bertaubat:
Pertama, sebelum dicatat dosa itu oleh malaikat, berdasarkan hadis berikut:

اِنَّ صَاحِبِ الشَّمَالِ لَيَرْفَعُ الْقَلَمَ سِتَّ سَاعَاتٍ عَنِ الْعَبْدِ الْمُسْلِمِ الْمُخْطِئِ فَإِنْ نَدِمَ وَاسْتَغْفَرَ اللهَ مِنْهَا اَلْقَاهَا وَاِلاَّ كُتِبَتْ وَاحِدَةً

Sesungguhnya malaikat yang berada di sebelah kiri mengangkat pena (tidak mencatat) selama enam jam ketika seorang hamba  muslim melakukan dosa. Jika ia menyesali perbuatannya dan meminta ampunan Allah, maka dilepaslah pena itu, namun jika tidak demikian, maka akan dicatat satu dosa.” (HR. Thabrani dalam al-Kabir dan Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dihasankan oleh al-Albani dalam Silsilah ash-Shahiihah (1209)).

Kedua, Setelah dicatat dan,
Ketiga, Sebelum ajal tiba.
Namun sangat disayangkan, banyak orang yang tidak mengenal siapa Allah dan tidak mengetahui keagungan-Nya sehingga membuat mereka berani mendurhakai-Nya dengan melakukan dosa-dosa di malam dan siang hari.
Ada di antara mereka yang menganggap remeh suatu dosa, misalnya mengatakan, “Memangnya, apa bahaya memandang wanita?” atau “Memangnya, apa bahaya dari berjabat tangan dengan lawan jenis?”, akhirnya mereka berani memandang wanita yang terbuka aurat baik di koran, majalah, televisi dan lain-lain. Sampai-sampai di antara mereka ketika mengetahui haramnya suatu perbuatan, bertanya, “Apakah dosa ini besar atau kecil?”
Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya kalian mengerjakan perbuatan yang kalian kira lebih ringan dari sehelai rambut, padahal kami di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganggapnya termasuk perbuatan yang dapat membinasakan.” (Diriwayatkan oleh Bukhari)
Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata,  “Sesungguhnya seorang mukmin memandang dosa-dosanya seakan-akan ia sedang duduk di bawah sebuah bukit, ia takut kalau bukit itu roboh menimpanya. Sedangkan orang yang fasik memandang dosa-dosanya seakan-akan ada lalat yang menempel di hidungnya, lalu ia berbuat seperti ini –yakni dengan tangannya- ia menyingkirkan lalat itu.” (Diriwayatkan oleh Bukhari)
Ahli ilmu menjelaskan bahwa dosa yang kecil apabila dilakukan tanpa ada rasa malu, tidak peduli sama sekali dan hilangnya rasa takut kepada Allah disertai sikap meremehkan bisa menjadikannya dosa besar.
Oleh karena itu,
لاَ صَغِيْرَةَ مَعَ الْاِسْتِمْرَارَ وَلاَ كَبِيْرَةَ مَعَ الْاِسْتِغْفَارِ
“Tidak ada dosa kecil apabila dilakukan terus-menerus,
Dan tidak ada dosa besar apabila diiringi dengan istighfar.”

Menganggap remeh suatu dosa adalah penyakit berbahaya, kepada orang yang terserang penyakit ini, kita katakan, “Kamu jangan melihat kecilnya dosa yang kamu kerjakan, tetapi lihatlah kepada siapa kamu bermaksiat.”

Syarat Taubat dan Penyempurnanya
Taubat adalah kata-kata mulia yang isinya dalam, tidak seperti yang disangka oleh banyak orang yaitu hanya ucapan di lisan namun perbuatannya masih tetap di atas dosa. Perhatikanlah ayat berikut ini:
وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ
Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (QS. Huud: 3)
Kita dapat mengetahui bahwa taubat adalah sesuatu yang lebih setelah istighfar.
Karena masalah taubat adalah masalah yang sangat penting, para ulama menyebutkan syarat-syarat taubat yang mereka ambil dari Alquran dan sunah. Berikut ini syaratnya:
  1. Segera meninggalkan perbuatan dosa itu.
  2. Menyesalinya.
  3. Berniat keras untuk tidak mengulangi.
Dan apabila ada hak orang lain yang kita ambil/zhalimi maka ditambah dengan yang keempatnya yaitu mengembalikan hak mereka atau meminta dihalalkan berdasarkan hadis berikut:
مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لأَحَدٍ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَىْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ ، قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُونَ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ ، إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ » .
Barang siapa yang pernah menzalimi seseorang baik kehormatannya ataupun yang lainnya, maka mintalah untuk dihalalkan pada hari ini sebelum datang hari yang ketika itu tidak ada dinar dan dirham. Jika ia memiliki amal saleh, maka diambillah amal salehnya sesuai kezhaliman yang dilakukannya, namun jika tidak ada amal salehnya, maka kejahatan orang itu akan dipikulkan kepadanya.” (HR. Bukhari)
Sebagian ahli ilmu menyebutkan syarat lain taubat nashuha (yang sesungguhnya) yang merupakan penyempurnanya sbb:
Pertama, meninggalkan dosa tersebut karena Allah.
Yakni ia meninggalkan dosa tersebut bukan karena tidak mampu mengerjakannya, bukan juga karena takut dibicarakan oleh manusia. Sehingga tidaklah dinamakan taubat jika seseorang meninggalkan dosa karena khawatir namanya menjadi buruk di masyarakat. Dan tidaklah dinamakan taubat kalau ia meninggalkan dosa karena khawatir sakit seperti orang yang meninggalkan zina karena khawatir terserang penyakit Aids.

Kedua, merasakan buruknya perbuatan dosa.
Yakni taubat yang sesungguhnya tidak mungkin membuat seseorang senang ketika mengingat dosa-dosanya yang telah lalu atau merasakan nikmat perbuatan dosa, atau bahkan ada keinginan untuk mengulanginya.

Ketiga, bersegera dalam bertaubat.
Oleh karena itu, apabila seseorang menunda-nunda taubat berarti taubatnya menunjukkan kurang sunguh-sungguh.

Keempat, merasa khawatir taubatnya belum diterima.
Yakni seseorang yang bertaubat tidak boleh memastikan bahwa taubatnya sudah diterima sehingga dirinya santai merasa aman dari makar Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kelima, adanya upaya untuk menutupi kekurangan dalam memenuhi hak Allah ketika mampu. Misalnya mengeluarkan zakat yang ditahannya di tahun yang lalu, di samping karena adanya hak orang fakir di hartanya itu.

Keenam, meninggalkan tempat maksiat dan kawan-kawannya yang mendorongnya berbuat maksiat.
Hendaknya seseorang yang bertaubat mengingat firman Allah Subhanahu wa Ta’ala ini”
اْلأَخِلآءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلاَّ الْمُتَّقِينَ
Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa. (QS. Az Zukhruf: 67)
Kawan-kawan jahatnya kelak akan saling melaknat satu sama lain. Oleh karena itu, hendaknya ia meninggalkan kawannya itu jika ia merasakan kesulitan mendakwahinya, dan jangan sampai memberikan kesempatan kepada setan menyeret dirinya dengan ikut duduk bersama mereka, karena ada saja orang yang kembali lagi berbuat maksiat ketika tetap bergaul dengan kawan-kawannya yang jahat.
Dalam sebuah hadis shahih disebutkan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا فَسَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَاهِبٍ فَأَتَاهُ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا فَهَلْ لَهُ مِنَ تَوْبَةٍ فَقَالَ لاَ . فَقَتَلَهُ فَكَمَّلَ بِهِ مِائَةً ثُمَّ سَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَجُلٍ عَالِمٍ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ مِائَةَ نَفْسٍ فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ فَقَالَ نَعَمْ وَمَنْ يَحُولُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ التَّوْبَةِ انْطَلِقْ إِلَى أَرْضِ كَذَا وَكَذَا فَإِنَّ بِهَا أُنَاسًا يَعْبُدُونَ اللَّهَ فَاعْبُدِ اللَّهَ مَعَهُمْ وَلاَ تَرْجِعْ إِلَى أَرْضِكَ فَإِنَّهَا أَرْضُ سَوْءٍ . فَانْطَلَقَ حَتَّى إِذَا نَصَفَ الطَّرِيقَ أَتَاهُ الْمَوْتُ فَاخْتَصَمَتْ فِيهِ مَلاَئِكَةُ الرَّحْمَةِ وَمَلاَئِكَةُ الْعَذَابِ فَقَالَتْ مَلاَئِكَةُ الرَّحْمَةِ جَاءَ تَائِبًا مُقْبِلاً بِقَلْبِهِ إِلَى اللَّهِ . وَقَالَتْ مَلاَئِكَةُ الْعَذَابِ إِنَّهُ لَمْ يَعْمَلْ خَيْرًا قَطُّ . فَأَتَاهُمْ مَلَكٌ فِى صُورَةِ آدَمِىٍّ فَجَعَلُوهُ بَيْنَهُمْ فَقَالَ قِيسُوا مَا بَيْنَ الأَرْضَيْنِ فَإِلَى أَيَّتِهِمَا كَانَ أَدْنَى فَهُوَ لَهُ . فَقَاسُوهُ فَوَجَدُوهُ أَدْنَى إِلَى الأَرْضِ الَّتِى أَرَادَ فَقَبَضَتْهُ مَلاَئِكَةُ الرَّحْمَةِ » .

“Dahulu, di zaman sebelum kamu ada seseorang yang telah membunuh sembilan puluh sembilan orang. Dia pun bertanya kepada orang-orang siapa yang paling mengerti agama, lalu diberitahukanlah kepadanya seorang rahib (ahli ibadah), maka didatanginya ahli ibadah itu dan diberitahukannya bahwa dia telah membunuh sembilan puluh sembilan orang, apakah masih bisa bertaubat? Ahli ibadah itu menjawab, “Tidak bisa.” Maka dibunuhnya ahli ibadah itu sehingga genap seratus orang yang telah dibunuhnya.
Namun dia (masih ingin bertaubat) dan bertanya siapakah orang yang mengerti agama, maka ditunjukkanlah kepadanya seorang yang alim (mengerti agama), ia memberitahukan kepadanya bahwa dirinya telah membunuh seratus orang, “Apakah masih bisa bertaubat?” Orang alim itu menjawab, “Ya, siapakah yang dapat menghalangi seseorang untuk bertaubat.

Pergilah kamu ke kampung ini atau itu, karena di sana ada orang-orang yang beribadah kepada Allah. Beribadahlah kamu kepada Allah bersama mereka, dan jangan kembali lagi ke kampungmu, karena kampungmu adalah kampung yang buruk.”
Orang ini pun pergi, dan di tengah perjalanan tiba-tiba maut datang, sehingga malaikat rahmat dan malaikat adzab berselisih (siapa di antara keduanya yang mencabut nyawanya).
Malaikat rahmat berkata, “Bukankah ia datang untuk bertaubat seraya menghadapkan hatinya kepada Allah?” Sedangkan malaikat adzab berkata, “Tetapi dia belum sempat berbuat baik.” Maka datanglah kepada mereka seorang malaikat dalam bentuk manusia, dan dijadikanlah ia sebagai hakim di antara mereka berdua, ia berkata, “Ukur saja jarak antara kedua kampung, apabila lebih dekat ke kampung yang satu, maka yang mencabut adalah malaikat ini.” Kedua malaikat itu pun mengukur, ternyata lebih dekat ke kampung yang hendak ditujunya, maka dicabutlah nyawanya oleh malaikat rahmat.”   (HR. Muslim)

Ketujuh, menghilangkan benda-benda haram agar tidak bisa kembali lagi berbuat maksiat.
Benda-benda haram itu misalnya minuman keras, alat musik, gambar porno, buku-buku yang mengisahkan kisah-kisah porno, patung dsb.

Kedelapan, mencari kawan yang membantunya menjalankan ketaatan atau membantunya tetap istiqamah.
Termasuk dalam hal ini adalah menghadiri majlis-majlis ilmu dan memanfaatkan waktu sebaik mungkin, jangan sampai memberikan kesempatan kepada setan untuk mengenang masa-masa lalunya.

Kesembilan, memperhatikan badannya.
Yakni jika sebelumnya badannya tumbuh dari yang haram dan untuk perbuatan yang haram, ia bersihkan dengan makanan yang halal dan menggunakannya untuk ketaatan kepada Allah.

Kesepuluh, taubat tersebut dilakukan sebelum kiamat kecil yaitu ketika nyawa di tenggorokan dan sebelum tibanya tanda kiamat besar yaitu matahari terbit dari barat.

Wallahu:alam Bishowab